Category Archives: Cerpen

BOLA TERUS BERGULIR by MISFAH KHAIRINA Part I

KURUN WAKTU 45 menit babak kedua pertandingan versus Klub Arjuna berjalan  klub Gatot Kaca berjalan alot! Kedudukan kacamata tidak membuat kedua klub malu. Permainan kiper menendang bola disambut kiper lawan, tontonan membosankan bagi sebagian penonton yang merasa waktu mereka akan terbuang menyaksikan pertandingan sekonyol itu. Satu persatu pendukung kedua klub beranjak meninggalkan stadion sebelum pertandingan usai. Sebagian lainnya masih duduk ditempatnya, dengan mulut tak henti-hentinya mencaci. Pertandingan menarik yang mereka harapkan ternyata jauh dari kenyataan. Tak ayal dari bangku-bangku stadion lemparan kulit kacang atau botol minuman mineral jadi pelepas kekecewaan. Teriakan-teriakan sadis diumbar disana-sini. “Bego lu! Cepetan Maju!” “Masak lawan dilepas begitu saja, gol tahu rasa!” “Awas kalau o-o!” “Ganti nomor 10!” “Hajar Ben Hattrick!” Seolah-olah tak terpengaruhakan hingar bingarnya penonton di kiri kanannya, seorang gadis yang bukan hanya satu-satunya cewek di jajaran bangku penonton, dia juga seorang wartawan, dikenali dari notes kecil di tangannya dan tentu saja kamera yang tergantung di lehernya. Sepanjang pertandingan gadis itu hanya menfokuskan penglihatannya ke lapangan hijau, sesekali pensilnya membuat coretan pendek. Nampaknya ia menikmati jalannya pertandingan. Tentu saja dengan sebuah cerita menarik di kepalanya. “Ya, nomer punggung 10 dari Klub Gatot Kaca, menjadi pusat perhatian. Beberapa sumber dari kalangan persepakbolaan sesumbar, Ben Hattrick pemain berbakat tahun ini. Di perkirakan akan menduduki bangku tertinggi sebagai pencetak gol terbanyak di musim kompetisi mendatang. Gadis itu tidak perduli dengan dengan segala macam analisa dan perkiraan. Ia ingin bukti. Untuk itulah ia sekarang berada di stadion, walau mata dan hati begitu penat menyaksikan pertandingan petak umpet yang dipertunjukkan kedua klub. Matanyanya menyipit, Ben Hattrick masih dalam jarak pandangnya. Serangan Klub Arjuna menyuruk jantung pertahanan Gatot Kaca. Pemain belakang gatot Kaca agak kerepotan akan serangan mendadak itu. Seorang gelandang Arjuna meliuk dengan gesit meliwati dua defender Klub Gatot Kaca. Satu gerakan bola berpindah ke kaki salah seorang pemain Arjuna yang berdiri beberapa meterdari gawang. Kepungan begitu ketat dari Klub Gatot Kaca, membuat  pemain Arjuna mengambil keputusan melepaskan tendangan langsung ke mulut gawang. Kiper Gatot Kaca tak perlu bersusah payah menepis tendangan tidak begitu keras yang dilepaskan pemain Arjuna. Bola melenceng jauh beberapa meter dari gawang. Terjadilah tendangan sudut. Penonton mulai panas. Stadion yang tadinya hiruk pikuk dengan segala makian, seketika memperdengarkan sorak-sorai mendukung Klub Arjuna. Detik-detik menegangkan terjadilah. Muntha, gadis wartawan tadi duduk dengan leher tegak. Ia ikut merasakan ketegangan yang terjadi di lapangan. Pemain bernomor punggung 11 dari Klub Arjuna mempassing bola dengan tendangan menyerupai paraabola, meliwati tiang gawang. Kemelut di muka gawang tak terhindarkan. Dengan tergesa seorang gelandang Arjuna menendang bola yang mampir dikakinya, ke gawang Gatot Kaca. sayang sekali dewi fortuna tidak berpihak kepadanya. Tendangannya membentur mistar gawang, mental ke dalam. Seorang pppppppppppppemainpemain Arjuna menghadangnya, dalam posisi siap mengkop bola. Kebetulan Ben hattrick bera “Bego Lu! Cepetan maju!” “Masak lawan dilepas begitu saja, gol tahu rasa!” “Awas kalau 0-0!” “Ganti nomer 10!” “Hajar Ben hattrick!” Seolah tak terpengaruh akan hingar bingarnya penonton dikiri-kanannya. Seorang gadis yang bukan hanya satu-satunya cewek di jajaran bangku penonton, dia juga bertindak sebagai wartawan. Dikenali dari notes kecil ditangannya dan name tag. Sepanjang pertandingan gadis itu hanya menfokuskan perhatiannya ke lapangan hijau, sesekali pensilnya membuat catatan pendek. Nampaknya ia menikmati jalannya pertandingan . Tentunya dengan sebuah berita menarik bertengger di kepalanya. Ya! Nomer punggung 10 dari Klub Gatot Kaca,menjadi pusat perhatian.

Beberapa sumber dari kalangan persepakbolaan sesumbar Ben Hattrick pemain muda paling berbakat tahun ini. Ia diperkirakan akan menduduki bangku tertinggi sebagai pencetak gol terbanyak di musim kompetisi mendatang. Gadis itu tidak perduli dengan segala macam analisis dan pridiksi, ia ingin bukti. Untuk itulah ia ia sekarang berada di kursi penonton. Walau mata dan hatinya begitu penat menyaksikan pertandingan petak umpet yang dipertunjukkan kedua klub.

Matanya menyipit, Ben Hattric masih dalam jarak pandangnya, serangan klub Arjuna menyuruk jantung pertahanan Gatot kaca. Pemain belakang Klub Gatot kaca agak kerepotan akan serangan mendadak itu. Seorang gelandang Arjuna meliuk dengan gesit meliwati dua orang defender Gatot kaca. Sebuah gerakan bola berpindah ke kaki salah seorang pemain Arjuna yang berdiri beberapa meter dari gawang. Kepungan begitu ketat dari Klub Gatot kaca, membuat pemain Arjuna itu mengambil keputusanmelepaskan tendangan langsung ke mulut gawang.

Kiper Gatot Kaca tak perlu bersusah payah menepis tendangan tidak begitu keras yang dilepaskan pemain Arjuna. Bola melenceng jauh beberapa meter dari gawang. Terjadilah tendangan sudut. Penonton mulai panas. Stadion yang tadinya hiruk-pikuk dengan segala makian, seketika memperdengarkan sorak-sorai mendukung Klub Arjuna.

Detik-detik menegangkan terjadilah. Muntha, gadis wartawan tadi duduk dengan leher tegak, ia ikut merasakan ketegangan yang terjadi di lapangan.

Pemain bernomor punggung 11 dari Klub Arjuna mempassing bola dengan tendangan menyerupai parabola, meliwati tiang gawang. Kemelut di muka gawang tak terhindarkan. dengan tergesa-gesa seorang gelandang Arjuna menendang bolakulit yang yang mampir di kakinya ke gawang Gatot kaca. Sayang sekali dewi fortuna tidak berpihak kepadanya. Tendangannya membentur mistar gawang, mental ke dalam. Seorang pemain Arjuna menghadangnya, dalam posisi siap mengkop bola, kebetulan Ben Hatrict berada tidak jauh darinya. Ben Hattrick berlari menuju arah bola. Bola melayang, Ben Hattrick dan pemain Arjuna melompat bersamaan. Brukk! Masuk! Sundulan pemain Arjuna bersarang di gawang Gatot Kaca.

Stadion seakan ambruk oleh gemuruh sorak-sorai pendukung Klub Arjuna. Malah ada pula pendukung Klub Gatot Kaca memihak Klub Arjuna, walau masih banyak fans setia Klub Gatot Kaca merasa dikecewakan Ben Hattrick. Andai saja ia sedikit berani beradu kepala dengan pemain Arjuna tadi, tentunya gol itu tak akan terjadi. Seolah-olah ia hanya melompat tanpa melakukan suatu tindakan penyelamatan yang berarti.

Ben Hattrick kehilangan taring. Ia menelungkup di rumput. Percuma, kedudukan berganti, 1-0 untuk Arjuna.

Muntha menghela nafas panjang. Ketegangan baru saja lewat. Pennya bergerak, menuliskan beberapa kalimat pendek. Penonton di sebelahnya mendumal, rupanya ia fans berat Klub Gatot Kaca.

“Lebih baik tidak usah jadi pemain Prof kalau takut bola-bola atas,” ujarnya dengan wajah kusut.

Muntha tersenyum kecil. Di notesnya terbaca, “Pemain sepakbola takut bola atas.” digaris bawahi tebal-tebal.

Menit-menit terakhir Arjuna seolah mendapat semangat baru. Serangan bergelombang silih berganti diperagakan gelandang penyerang mereka. Hari naas bagi Ben Hattrick, ia membuat kesalahan kedua. Seorang gelandang menyerang Arjuna berupaya menembus pertahanan Klub Gatot Kaca diganjal kerasoleh Ben, tanpa ampun Ben Hattrick dihadiahi kartu merah oleh wasit.Lunglai!Jagoan kertas keluar lapangan. Tragisnya, tinggal 10 detik lagi pertandingan usai.

Peluit wasit menandakan berakhirnya pertandingan sore ini. Muntha bergegas meninggalkan stadion dengan sebuah catatan kecil,”Pemain berbakat itu ternyata Macan ompong!”

ooo

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen, Uncategorized

Cerpen : HANABASHI by Misfah Khairina

“Kau layani dulu pembeli. Ibu mau tengok Kayla dulu.” Kata Nadia pada Asih, bergegas ke ruang sebelah dimana ia tinggal.Bayi mungilnya sedang menagih ASI. Dari jendela kamar Kayla, Nadia melihat sepasang manusia keluar dari dalam mobil. Yang laki-laki terlihat rapi dengan stelan kemeja bergaris dan celana konduroy coklat tuanya. Tangannya menenteng smartphone keluaran terbaru. Sementara yang wanita kelihatan fashionable mengenakan minidress berbunga-bunga kecil dengan warna pastel dengan bolero berwarna khaki. Tangan kirinya menenteng tote bag berwarna senada dengan boleronya, sementara tangan kanannnya bergelayut manja di lengan si lelaki.
Asih, pegawai baru itu akan melayani mereka. Sudah beberapa hari Asih bekerja di took bunga milik Nadia. Selama itu dia menunjukkan kinerja yang bagus. Cekatan dan ramah. Nadia merasa sangat terbantu, disaat-saat ia masih memberikan ASI eksklusif pada Kayla.
“Bu…Bu Nadia…rangkaian bunga kering di dinding itu dijual?” Asih tergopoh-gopoh menghampiri Nadia.
“Yang mana? Tunggu sebentar!”
Nadia hati-hati meletakkan Kayla yang sudah tertidur pulas ke dalam boxnya.
“Hanabashi itu dijual kecuali yang paling besar itu tidak dijual. Maaf milik pribadi.” Kata nadia pada sepasang muda-mudi yang sudah membeli mawar segar, nampaknya mereka berminat pada rangkaian bunga kering yang ditata indah dan dibingkai dikenal sebagai hanabashi. Nadia memepelajari merangkai bunga itu saat ia sekolah di Jepang.
“Tapi aku mau yang itu!” rajuk si wanita pada laki-laki disampingnya pada sembari menunjuk pada rangkaian hanabashi berukuran besar yang dipenuhi kelopak kering mawar merah dirangkai seperti buket pengantin.
“Please saya bayar, berapapun harganya.” Ujar laki-laki itu berpaling pada Nadia.
“Arman!” hati Nadia menejerit . Wajah lelaki itu sekilas menunjukkan keterkejutan.
“Maaf kami tidak menjual yang itu. Koleksi pribadi, berapapun anda sanggup membayarnya. Ulang nadia mendadak merasa tak nyaman di took bunganya sendiri. Entah apa sebabnya.
“kalau tidak dijual kenapa dipajang?” dumal si wanita.
“Sudahlah Karin. Yang itu juga bagus, apa yang itu , kamu suka kucing kan?”
“Tapi aku maunya yang itu!”
“Ngga boleh sama yang jual, sayang. Bagaimana kalau yang ini saja, sebagai tanda maafku., please?”Arman memohon dengan tatapan selembut kelinci. 21 mawar kuncup ditangannya.
“Sebagai tanda maafku.”
“Baiklah”. Ujar wanita bernama Karin seraya mendengus halus, mereka berpelukan. Nadia membuang pandang. Dadanya terasa sesak, sementara matanya terasa memanas. Arman mengeluarkan kartu kreditnya dan membayar semua bunga-bunga yang ia hadiahkan pada Karin.
Saat Nadia mengembalikan kartu kredit Arman, tak sengaja pandangan mereka beradu, “Nad, senang bertemu denganmu kembali.” Kata Arman dengan senyum kecil disudut bibirnya. Nadia tidak tahu harus berkata apa dengan peretemuan tak disangka-sangka itu.
Stelah kepergian Armand an Karin. Nadia masih terduduk lemas dengan mata menatap hanabashi terindah di dinding toko bunga itu. Rangkaian buket pengantin hanabashi itu istimewa pun penuh kenangan. Kenangan akan cintanya pada seseorang. Seseorang yang mengisi hatinya 7 tahun yang lalu.
Pikiran Nadia mengembara ke masa silam saat ia masih jadi wanita terkasih lelaki bernama Arman. Ia teringat hari itu mereka menikmati makan malam yang romantic di restaurant Perancis sebelum keberangkatannya ke Jepang, “Arman, sebentar lagi aku ke Jepang..menurutmu gimana kalau kita tunangan dulu?”
Wajah Arman menunjukkan keterkejutan, seakan-akan ia menelan sesuatu yang aneh dikerongkongannya, sehingga ia harus membasahinya dengan menenguk anggur putih itu dua kali.
“Tunangan? …ada apa ini Nadia? Ngga cukupkah kita saling mencintai?”
“Man kita sudah pacaran 3 tahun. Aku ingin kepastiansebelum keberangkatanku ke Jepang. Sebuah perjalanan pasti ada akhirnya bukan?”
“Nad,…sorry…terus terang aku belum siap. Aku masih punya banyak mimpi. Banyak keinginan yang belum kucapai. Aku ingin menuntaskan S2ku dan mengembangkan usaha yang diwariskan ayahku. Tunangan…nikah…bukan prioritasku saat ini. It…is not the right time…honey. Maafkan aku jika aku mengecewakanmu.”
Begitulah Arman, walaupun sudah tiga tahun mereka bersama, Nadia belum bias memahami siapa sesungguhnya kekasihnya itu. Hingga ia sekolah ke Jepang, beberapa kali mereka putus sambung. Sampai disuatu titik Nadia merasa terlalu lelah untuk menunggu. Seorang lelaki Indonesia yang dikenalnya di Jepang mendekatinya. Disaat hatinya bimbang dan bingung dengan jalinan kasihnya dengan arman yang tak berujung, Rio menunjukkan keseriusannya. Rio dating dengan keluarnya meminang Nadia menjadi istrinya. Nadia pasrah dengan takdirnya. Lamaran Rio, suatu tanda dari Tuhan untuknya. Nadia memutuskan menerima pinangan itu.
Nadia mengundang Arman di resepsi pernikahannya. Tapi Arman tidak datang. Sehari sebelum hari H, Arman mengirimkan buket mawar dan ucapan selamat. Nadia melepas kelopak demi kelopak buket mawar itu satu persatu, dikeringkan, ditata dan disusun kembali menjadi hanabashi yang indah.
Ooo
“Arman!” Nadia terkesiap melihat kemunculan Arman untuk kedua kalinya di toko bunganya. Kali ini ia dating sendiri.
“Nadia….Nadia….” Arman tertawa canggung, “Aku masih tak percaya kita bertemu lagi. Gosh! It’s been long time! Maaf aku ngga bias dating ke resepsi pernikahanmu. Waktu itu aku masih menata hatiku yang berantakan. Aku masih shock dengan keputusanmu. Hey…tapi buket bungaku sampaikan?”
Nadia mengangguk seraya melirik Hanabashi buket mawar yang tergantung cantik di dinding tokonya.
“Terima kasih atas buket indahnya. Maaf baru kali aku bias mengatakannya.”
“Saat kau tinggalkan aku, aku baru sadar, aku telah melepaskan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupku. Kamu! Tapi semuanya sudah terjadi. Aku sudah meliwatnya, walau berat!” Arman menghela nafas dalam,” Aku hanya ingin menyerahkan ini padamu. Ku harap kau datang.” Ujarnya seraya menyerahkan sebuah undangan pernikahan. Pernikahan Armand dan Karin.

Sepeninggal Arman , Nadia menurunkan Hanabashi istimewa itu dari dinding. Membersihkan dengan hati-hati.
“Sih, tolong bungkuskan ini.”
“Ini kan tidak di jual, Bu?”
“Aku tidak menjualnya, aku akan memberikannya.”
“Tapi Bu?”
“Sudah saatnya aku melepaskannya dengan ikhlas.” Kata Nadia sembari tersenyum penuh arti.
Ooo
Sehari sebelum hari pernikahannya, dimalam midodareni, Karin dikejutkan dengan sebuah bungkusan di kamarnya. Perlahan-lahan dibukanya bungkusan persegi empat panjang itu. Sahabat-sahabatnya juga penasaran apa isi bungkusan itu. Karin menjerit girang, saat menegtahui isi bungkusan itu, “Hanabashi idamannya!”
Dengan perasaan bahagia membuncah Karin serta merta menilpon Arman, “Honey…ma kasih ya hanabashi….indah sekali. Pemilik toko itu bilang dia tidak akan menjual hanabashi itu, tapi kamu hebat bisa mendapatkannya untukku. Thanks ya…it means so much to me.” Suara Karin bergetar.
“Karin…wait….hanabashi. “
“Udah dulu ya Hun! I miss you…muach!”
Arman terlongong dengan hp yang belum dimatikan. Ia masih bingung dengan kata-kata Karin barusan, bukannya ia memberi Karin bingkisan Jam tangan Cartier di malam midodareni, lantas apa tadi Karin bilang Hanabashi?
Ke esokan harinya,Nadia melirik dinding kosong di tokonya. Sudah saatnya ia melepaskan semua kenang-kenangan Arman dari hidupnya. Hatinya sekarang seperti dinding kosong itu, siap untuk di isi dan ia tahu pasti dan yakin siapa yang mengisi dinding kosong itu, tatapan cinta Rio merangkulnya, “Sudah siap, Nyonya Rio wicaksono.?”
Nadia mengangguk, keduanya bergandengan tangan siap pergi ke resepsi pernikahan Armand dan Karin.

Tamat

13 Komentar

Filed under Cerpen

Ada “aku” disetiap cerpenku

Walaupun tidak semua cerpenku adalah diambil diilhami dari kisah hidupku namun hampir disemua cerpenku ada “aku”. Kadang sengaja kadang ngga sengaja. Pendapatku, pandanganku, kemarahanku, kritikanku, sifat-sifatku, hobbyku, makanan kesukaanku, pakaian favoritku, celebrity kesayanganku, rasanya ngga pernah lepas dari bau-bau “aku” deh! Seperti cerpen-cerpen yang telah ku tampilkan dalam blogku ini, di cerpen Kutunggu Di Shimokitazawa, aku suka banget Jepang. Kutemukan Bioskop yang memang benar-benar ada di Shinjuku itu di Buku Pasifik friend, aku terinspirasi dengan bioskop mungil yang sederhana di belantara gedung tinggi di Shinjuku. Sedang kisahnya, aku ingin menunjukkan pendapatku tentang kisah cinta dua negara itu memang ngga mudah dan kadang kenyataan tidak seperti yang dibayangkan.
Sedang di cerpenku, Romansa di Tebing Pelangi, tokoh utama si Meira, itu ada kemiripan dengan aku, he…he..he..menyukai olahraga ekstrem (walau belum pernah nyoba…he…he…), tomboy, stubborn, tapi tetep romantis. Ceritanya terinspirasi dari keprihatinanku dengan dilema atlit-atlit muda yang ingin berprestasi namun tetap ingin menikmati masa mudanya. Walaupun segalanya ada konsekuensinya. apapun yang kita pilih kita harus bertanggung jawab dengan pilihan kita.
Di cerpen School of Horror, kemarahanku akan bullying yang mulai marak di tanah air. Kenapa kita membiarkan ini terjadi, kenapa tidak kita lawan? Bukankah sekolah untuk menuntut ilmu dan berteman, bukan belajar jadi preman?
Dicerpen pangeran Alam, I love music and writing, dua tokoh utamanya adalah musisi dan penulis. Aku ingin bangeeeet bisa main gitar dan jadi anak band (obsesi yang ngga kesampaian…xi…xi..xi..).
Kuharap Pembaca cerpenku mengenalku disetiap cerpenku. Walaupun kita belum pernah kenalan sebelumnya. Aku ingin someday ( Aku masih dalam proses) pembaca cerpenku mengenal tulisanku tanpa membaca terlebih dahulu siapa penulisnya.

3 Komentar

Filed under Cerpen, Uncategorized

Cerpen : Pangeran Alam

Sudah baca cerpenku di Majalah Kawanku edisi 64 tahun 2010 yang Covernya Justine Beiber? Kalo belum, kalian bisa baca disini.
PANGERAN ALAM
BY
MISFAH KHAIRINA

Blue Longue, tempat ternyamanku. Sebagai anggota homeband longue unik yang semua pengunjungnya seniman. Dandananku yang vintage gothic tidak begitu kentara disini, selesai manggung aku biasanya kongkow-kongkow dengan teman-temanku sesama musikus, menulis aransemen, atau hanya sekedar bermimpi demo band kami diterima major label, atau cukup berpuas diri dengan indie label modal salah seorang sahabat pelanggan Blue Longue juga, hmm…semangat kemudaanku meluap-luap disini selantang nyayianku tentang hutan yang kembali hijau dan langit biru yang kurindukan diiringi irama folkrock yang menghentak.
Malam itu semua nyanyianku tentang alam seolah termanifestasi didalam ruang biru yang tak begitu luas itu, semuanya tersaji begitu rupa sejak pintu kaca itu terkuak. Lekuk tubuhnya, cara berjalannya, rambutnya, dia “Pangeran Alamku”. Aku terhenyak sesaat membuat syair-syair laguku berterbangan diudara, dan susah kuraih kembali menjadi untaian lagu yang utuh.
Setelah music berhenti aku seolah disadarkan dari mimpi sejenak pengembaraan singkat kealam nirwana. Gerutuan-gerutuan dan gumaman kekesalan tertuju padaku. Aku masih berada didunia ini di ruangan biru, Blue Longue. Dan si mata murung, “Pangeran Alamku”, seakan tak perduli keberadaanku ditengah-tengah panggung. Dia tak perduli pikiranku menari-nari oleh kehadirannya. Didepan latop disudut ruang biru dia seolah memiliki dunianya sendiri. Aku tidak bisa menahan hasratku mengungkap dunia misteriusnya. Tak pernah aku seperti ini, seperti Sherlock Holmes yang mencium sesuatu. Aku ingin tahu begitu ingin tahu misteri dibalik mata murungnya.
“Pengunjung baru.” Kata Lusi, waiter sahabatku,”Seorang penulis. Sudahlah, Say! Dia tidak berniat tebar pesona disini”
“Tapi seorang penulis, pasti butuh inspirasi.” Kataku percaya diri.
“Lodi…Lodi….rasa-rasanya bukan kamu deh inspirasinya.” Lusi terkekeh. Aku merengut dan mulai meraih gitarku. Memainkan seenak hatiku. Beberapa pengunjung agak terganggu dengan ulahku, “Pangeran Alam” melihatku dari sudut mata murungnya yang seperti telaga yang dalam. Hanya beberapa detik. Membuat nafasku tertahan. Ia seolah teringat sesuatu dan memastikan ia belum terlambat, handphonenya mengingatkan. Sosoknya menghilang dikeabadian malam. Menyisakan sepi. Disini. Dihati ini.
Ooo

Sungai-sungai tersumbat
Oleh jiwa-jiwa kotor para koruptor
Biarkanlah kebenaran bagai air bah yang menerjang
Menerjang
Mengikis
Hingga air bening nurani mengalir kembali
Disungai-sungai negeriku yang permai
Kuberikan penampilan terbaikku. Sambutan penonton yang meriah hadiah yang tak terperi bagi seniman amatir sepertiku. Tapi ah…andai Pangeran Alam sedikit saja mendengarkan nyanyianku, suaraku, musikku. Dirinya sama sekali tidak tergugah sedikitpun olehku. Kau berhasil membuatku mendamba perhatianmu. Tapi kau terlalu kikir untuk berbagi dengan latop sialanmu. Tak ada cara lain, selain menyingkirkan “kekasih hatinya” itu, dan ia harus melihatku ada. Seorang gadis yang tak pantas untuk diabaikan. Sepasang kakiku melangkah menuju mejanya., seketika itu juga tangannya sigap memasukkan latop sainganku kedalam ranselnya dan ia pun beranjak pergi, nyaris tubuh jangkungnya menubrukku, “Maaf”katanya pendek lantas menghilang dari ruangan biru selincah rubah. Ternyata rubahpun bisa juga ceroboh, ia meninggalkan sesuatu dilantai. Sebuah Flash disk!! Seperti menemukan mutiara ditengah samudera aku ingin berlonjak girang namun ku urungkan, siapa tahu dia berbalik dan melihatku begitu girang dengan flashdisknya? Yang terburuk aku dikira pencuri atau plagiator! Kusimpan benda mungil itu di dalam kantong rok berendaku dengan hati-hati dengan sebuah senyum lebar diwajahku, misteri itu akan terkuak.
Ooo
Kusimpan hatiku dalam kotak kacamu selamanya. Kukunci dan kuncinya kubuang ke samudera yang dalam. Kunci satunya kuserahkan padamu Nadine. Cintaku. Hatiku hanya satu. Semua untukmu. Penggalan kalimat terkhir Cerpen berjudul “Kotak Hati untuk Nadine”. Tak terasa beberapa bulir air bening mengalir kepipiku. Entah perasaan haru atau sedih. Cerpen “Kotak Hati Untuk Nadine” hanya salah satu dari berbagai cerpen yang semuanya untuk Nadine didalam Flash disk “Pangeran Alamku”, Misteri telah terkuak tapi aku tak merasa bahagia olehnya. Nadine, entah sosoknya maya atau nyata ia berada diantara aku dan Pangeran Alamku. Betapa Pangeran Alamku mencintainya. Rasa cemburu membakar hatiku. Nadine kuharap kau hanya “kekasih khayalan” saja. Dia tak pernah ada. Dia tak akan pernah membalas cintamu. Aku nyata “pangeran Alam” ,andai kau serahkan hatimu padaku, kuakan mencintaimu sepenuh hatiku…sepenuh hatiku. Pikiranku bergumul akan penyangkalan dan harapan-harapan.
Harapan sekecil apapun harus dikejar bukan? Saat Pangeran Alamku muncul diruangan biru, kuangsurkan flash disk miliknya, “Milikmukan? Kutemukan terjatuh beberapa hari yang lalu waktu kau nyaris menabrakku,
“Thanks!”katanya datar wajahnya yang seperti batu pualam tak menunjukkan ekspresi berlebihan.
“Maaf, aku membaca isi file diflash disk itu.” Kataku hati-hati.
“Oh…begitu.”
“Kuharap kau tak marah.”
“Aku ingin dengar pendapatmu sebelum kuserahkan pada Nadine.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu. Aku berusaha mencari pegangan supaya aku tidak limbung, “Kamu….baik-baik saja?” tanyanya.
“Terlalu banyak bergadang membuat darah rendahku kumat.” Dalihku, “Biasa kerjaan musisi.”dalihku.
“Kamu sudah menemukan flash diskku,bagaimana kalau kutraktir cappuccino.”tawarnya.
“Tawaran yang susah untuk ditolak disore bermandikan gerimis.”sahutku tanpa basa-basi masih penuh harap, “Karya yang indah.” Sungutku.
“Semua karena Nadine dia inspirasi terbesarku.” Pangeran Alamku tersenyum. Senyum yang begitu menawan sekaligus menyiksa karena aku bukan pemiliknya.
“Kamu telah membaca karyaku, kalau kau tak sibuk kuajak kau bertemu dengan Nadine. Dia pasti senang sekali bertemu dengan kamu. Hampir saja aku lupa, boleh aku tahu siapa namamu?”
“Laudia, panggil saja Lodi.”
“Namaku Raga.”
Ooo
Aku tidak ingin bertemu dengan Nadine karena itu akan mematahkan hatiku, mematikan harapanku. Tak ada yang dapat membendung rasa ingin tahuku. Siapa itu Nadine, begitu spesialnya dia. Secantik apakah dia? Sebaik apakah dia? Apa dia seunik diriku? Diam-diam kubuntuti Pangeran Alamku pergi. Beberapa kali tak membuahkan hasil. Hingga disuatu sore aku menemukan motornya singgah disebuah rumah besar. Aku menunggu dengan hati berdebar. Seorang anak perempuan berjalan tersaruk karena dikedua kakinya yang bengkok terpasang besi-besi penyangga, ekspresinya begitu gembira menyambut Raga walaupun bicaranya tidak begitu jelas. Raga memberinya bunga dan bingkisan, membuat mata polos gadis kecil itu berurai air mata. Raga membacakan tulisannya gadis itu menyimak dengan seksama, mata polosnya berkaca-kaca. Aku tak sanggup menyaksikan adegan dihadapanku karena aku tahu dari plang kayu didepan rumah besar itu kutahu gadis kecil tak berdaya itu sebatang kara.
“Lodi…Ngapain kamu disini?”
“Aku…membuntutimu…Ma…Maafkan..aku.”
“Kamu menangis…”
Gadis kecil itu tertatih mendekatiku,dengan tangannya yang tak sempurna lembut dia menyentuh pipiku yang basah berkata dengan lirih,”Ka ka…ja..gan…se…ich.”katanya susah payah. Kepala-kepala mungil dan mata-mata polos haus cinta bermunculan menonton kami membuat hatiku teriris oleh rasa haru.
“Lodi, ini Nadine yang kuceritakan. Ia penderita multi cacat bawaan. Dia dibuang ibunya sejak bayi di Panti Asuhan ini. Mengunjunginya, membuatku bersyukur apa yang kumiliki. Nadine dengan segala keterbatasannya, masih dapat memandang dunia ini dengan ceria.”
Aku tertawa dalam hati, mentertawakan diriku sendiri yang dibutakan cemburu. Nadine memang pencuri hati, dia sumber inspirasi begitu pula anak-anak lainnya di Panti asuhan itu. Aku langsung memainkan gitarku menyanyi sepenuh hatiku.
Tawamu seindah matahari pagi
Menarilah bersamaku
Dibawah langit biru
Kau mutiara hatiku
Aku menoleh pada Pangeran Alamku, ia memandangku dengan mata murungnya yang indah, begitu lekat, begitu dalam. Kerongkonganku tercekat. Harapanku membuncah. Anganku mengalunkan melodi jiwaku merangkai kata-kata. Pangean Alam…Pangeran Alam…kuingin tenggelam dalam bening sepasang mata airmu yang tenang…terhanyut disungai-sungai pengharapan…dan ingin kejelajahi samudera hatimu.
Tamat

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Pengen Cerpenmu dimuat di majalah? Buruan kirim ke alamat ini

Cerpen yang kamu buat udah sejibun, jangan cuma disimpan di file atau cuma dibaca sendiri doang, kenapa tidak dikirimkan ke Majalah atau tabloid. Siapa tahu dimuat. Ini aku kasih bocoran beberapa alamat Majalah dan Tabloid, catet yaa..

1. tabloid Gaul
Jln. Kedoya Duri raya No.36 Kebon Jeruk Jakarta 11520

2. Majalah Story (Majalah Khusus cerpen)
E-mail : story_magazine@yahoo.com

3. Majalah Teens
Jln. Guru Mughni No.2 Karet Kuningan
Jakarta Selatan 12940

4. Majalah Kartika (Majalah Wanita Dewasa)
Jln. Garuda 82-C
Kemayoran Jakarta 10620
e-mail : majalahkartika@yahoo.com

5. Majalah Says! ( Majalah Khusus cerpen)
Jln. Alaydrus 45 Jakarta
e-mail ; redaksi@majalahsay.com

6. Majalah Gadis
Jln. HR. Rasuna said Kavling B 32-33
Jakarta 12910
e-mail: GADIS@feminagroup.com

7. Majalah Chic
e-mail : Chic@gramedia-majalah.com
chicstory@gramedia-majalah.com

8. Majalah kawanku
e-mail : fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com
cerpenkawanku@gmail.com

9. Tabloid Nova
NOVA@GRAMEDIA-MAJALAH.COM

10. Majalah Sekar
e-mail ; Sekar@gramedia-majalah.com

11. Majalah Hai (Majalah cowok/cerpennya yg cowok banget!)
e-mail : Hai-magazine@gramedia-majalah.com

12. Majalah Girls (pre teens, anak 12-15 tahunan)
Girls@gramedia-majalah.com

13. Majalah Horison (majalah sastra)
e-mail :
horisonpuisi@gmail.com
horisoncerpen@gmail.com

14. Majalah Go Girl
Jln. Kebayoran Lama Raya No 236
Jakarta Barat

15. Majalah Aneka
aneka@indosat.net.id

Jangan lupa cantumin biodata kamu, no hp. dan no.rekening kamu kalo belum punya alamat harus jelas yaa…Selamat Mencoba. Kalo berhasil dimuat kasih kabar yaa…
followme at twitter :@cerpenmisfah , I will follow you back 🙂

522 Komentar

Filed under Cerpen, Majalah, Uncategorized

Nulis cerpen pake Bahasa Gaul atau Bahasa Indonesia baku?

Kalo harus mikir dulu musti pake bahasa gaul atau Bahasa Indonesia yang baik benar sebelum nulis cerpen, bisa-bisa cerpennya ngga jadi-jadi karena kita kebanyakan pikir. Tulis dulu apa yang ingin kita tulis baru kita baca kembali dan revisi. Semuanya tergantung kita, yang mana yang kita merasa nyaman, nulis pake Bahas gaul atau Bahasa Indonesia Baku.
Aku kadang nulis pake bahasa gaul, kadang pake Bahasa Indonesia baku, apa salah? Kadang nulis yang pake Bahasa Indonesia baku ngga dimuat, yang bahasa gaul malah dimuat atau sebaliknya. Memang menulis cerpen dengan Bahasa Indonesia yang baku itu long lasting bisa dibaca kapan saja, sekarang hingga masa-masa yang akan datang. Contohnya Roman Siti Nurbaya, dll.Bahasa Gaul terbatas pada dimana masa saat Bahasa gaul itu digunakan, setiap masa Bahasa gaulnya berbeda. Simpel aja kalo kamu masih muda, remaja, tulis aja cerpenmu dengan Bahasamu, atau bahasa gaul yang sedang beredar dikalangan kawula muda, sementara itu kamu belajar juga membuat cerpen dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sejalan dengan perkembangan umur, sedikit-demi sedikit, asa karena biasa, kamu akan meninggalkan Bahasa gaulmu dan beralih pada Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan ragu untuk menuliskan ide-idemu. Kalau semuanya dari hati dan pikiran yang kreatif, Bahasa apapapun tak masalah.

5 Komentar

Filed under Bahasa, Cerpen, ide, Uncategorized

Honor cerpen

Setiap kali cerpen kita dimuat ada kebahagiaan tersendiri melihat cerpen kita sendiri dipublikasikan, apalagi sampai dibaca dan diapresiasi dapat honor pula. Memang dari menulis cerpen kita ngga bisa serta merta jadi millioner.

Honor cerpen yang pernah kuterima berkisar antara Rp.25.000 hingga Rp.300.000 ribu rupiah. Tapi aku tidak mempermasalahkan berapapun honor yang diberikan, yang penting aku berkarya sebaik-baiknya, dimanapun cerpenku akan dikirimkan, media yang hanya memberi Rp.25.000 saja per cerpen atau Rp. 300.000 percerpen aku tetap mengirimkan karyaku. Bahkan dulu ada media yang hanya memberikan Rp.75.000 setiap cerpen dimuat sekarang mereka memberikan hampir Rp.300.000 ribu dipotong pajak tentunya.

Lucunya pernah cerpenku dimuat, honornya belum aku terima hingga berbulan-bulan ternyata honornya nyasar…he…he…kalau punya kejadian seperti ini cepat saja confirm ke medianya, mereka akan menindak lanjuti. Tapi untung saja aku beli medianya, pernah aku malah tidak tahu sama sekali cerpenku dimuat, tahu-tahu honornya datang.

Dulu media mengirimkan honor cerpenku biasanya liwat wesel pos sekarang tinggal tulis rekening bank kita aja dihalaman terakhir cerpen yang kita kirimkan, jangan lupa juga kirimkan sejenis surat pendek tentang biodata kita dan alamat yang jelas, kalo perlu No. Hp dan tentu saja no. rekening Bank tadi. kalau cerpen sudah dimuat dan honor sudah masuk rekening kita jangan lupa confirm lagi sekaligus mengucapkan terima kasih. hubungan baik dengan media itu hukumnya wajib, bukankah kita ingin cerpen kita terus-terusan diterbitkan bukan? selain karyanya layak muat, hubungan baik yang kita jalin dengan media membuat karya-karya kita terus exist diberbagai media penerbitan.

46 Komentar

Filed under Cerpen, Majalah, Uncategorized

Ada apa di Majalah Kawanku No.64?

Ada apa dimajalah Kawanku No.64 Yang Covernya Justine Beiber? Sttt…Buka halaman cerpennya dan….tretetetet…tetet….Ada Cerpen Yang judulnya Pangeran Alam, penulisnya yang punya blog ini….he…he…

Lama banget aku ngga ngririm cerpen ke Majalah Kawanku, sebenarnya ada sih beberapa cerpen yang kukirim ke Kawanku tapi mungkin ngga layak muat, sekarang pas dimuat malah aku ngga tahu? Taunya pas liat buku tabungan kok ada transferan?….he…he…

Udah ada feeling deh kayaknya dari Majalah Kawanku. Aku dan Majalah Kawanku itu punya stori yang sangat panjang. sekedar bocoran, cerpen pertamaku yang dimuat majalah, Ya Majalah Kawanku judulnya Cermin, waktu Majalah Kawanku masih baru terbitnya, Covernya Edward Furlong. Waktu itu aku girang bukan kepalang, rasanya gimana gitu melihat karya sendiri di majalah…ngga percaya…bingung kok bisa dimuat?…he…he…Terima kasihku pada Majalah Kawanku yang telah memberiku keyakinan dan kepercayaan diriku, bahwa karyaku dihargai dan dapat dinikmati.

// <![CDATA[src=”http://kumpulblogger.com/dam.php?b=98998&#8243; type=”text/javascript”>]]>
</script>

44 Komentar

Filed under Cerpen, Majalah, Uncategorized

STRESS DAN IDE

Pernahkah kamu disaat lagi stress dan kerjaan setimbun, ide mengalir dengan derasnya seperti sungai dikala banjir. Kadangkala disaat begitu disela-sela pekerjaan,sempat-sempatnya aku  menulis di notes,atau bela-belain bergadang tengah malam untuk menuangkan ide jadi tulisan. karena bagiku kalau sudah ide di kepala kalau dibiarin bakalan menguap begitu saja. Anehnya disaat liburan atau leyeh-leyeh waktu luang, ide entah ngumpet dimana?

Mungkin saat kita bekerja dan stress otak kita terkondisi untuk kreatif. Kadangkala bagi aku menulis juga sekaligus pelepasan stress. Kadang apa yang menurutku tidak benar, protes-protesku, kemarahanku, kuluapkan dalam cerita-ceritaku. Kadangkala kejadian menarik ditempat kerja, diperjalanan, ditengah macet, atau curhatan teman-teman menjadi ide yang luarbiasa.

Jadi sebenarnya stress itu ada juga gunanya untuk mentrigger aku menjadi lebih kreatif.

2 Komentar

Filed under Cerpen, ide, Uncategorized

Cerpen : School of Horror by Misfah Khairina

Siapa yang mencoret-coret meja laboratarium?!” suara Bu Erna menggelegar ke sekeliling kelas. Semua terdiam, hanya bola mata yang saling lirik. Tatapan tajam Erin menusuk, tertuju pada dua gadis yang duduk di sebelah kanannya. Nanda dan Mita. Terutama Mita!
“Bu Erna, saya tahu siapa yang melakukannya.” Nanda berucap.
Spontan Mita menyuruhnya diam dengan tatapannya.
“Bukankah kita…”bisik Nanda protes.
“A..anu Bu, sa…saya yang melakukannya.” Tukas Mita, membuat seisi kelas lega, terutama empat pasang mata Geng “Funky Girls”, Erin , Brilly, Gea dan Mody.
“Mita! Apa-apaan ini! Itu tidak benar, Bu! Mita…” Nanda heran dengan kelakuan teman sebangkunya itu.
“Benar,Bu. Saya yang melakukannya.” Tandas Mita lagi.
“Kalau begitu Mita, Ikuti Ibu ke kantor.” Mita menelan ludah.
“Sudahlah , Nda! It’s OK, ngga apa-apa, kok!” bisik Mita menenangkan perasaan campur aduk Nanda, sahabat barunya. Nanda memang murid pindahan dari Surabaya. Pertama kali bertemu, Mita sudah merasa klop bersahabat dengan Nanda. Tapi kadang-kadang Mita takut dengan sikap Nanda yang agak “berani” terutama yang menyangkut dengan kelakuan ke empat cewek-cewek “Funky Girls”.
Istirahat pertama Nanda langsung menghampiri Mita yang baru saja keluar dari kantor.
“Kamu baik-baik saja, kan?”
Mita tersenyum,”Aku sehat wal afiat tak kurang suatu apa. Cuma dinasehati.”
“Tapi kamu tidak melakukan perbuatan itu. Bukankah Erin cs yang melakukannya? Ini sama sekali tidak adil!”
“Sudahlah,Nda! Aku lebih memilih dibawa ke kantor dibandingkan berhadapan dengan “Funky Girls”.sahut Mita enteng . Nanda geleng-geleng kepala, “Mita….Mita….”
Ooo
“Hoooiii…lama banget, sih! Aku sudah kebelet, nih!” gedor Nanda di depan pintu WC satu-satunya yang lumayan bersih dan bisa digunakan.
“Iya, nih! Siapa sih yang make?” gerutu Mita.
Dari dalam WC terdengar gelak tawa dan asap. Asap rokok! Siapa yang merokok? Nanda mengetuk pintu WC kembali. Pintu terbuka. Erin dan Bea menyembunyikan sesuatu. Alis keduanya terangkat,”Ngapain ketak-ketok?Emang kami tuli? Tunggu sebentar napa, seeeh?” kata Erin.
“Kalau mau pipis, kan ada WC kosong di sebelah.” Timpal Bea dari mulutnya tercium bau asap rokok.
“Kalian tidak tahu kalau WC di sebelah pintunya rusak.” Balas Nanda.
“Diakalin kek! Alasan saja!” Bea dan Erin melangkah keluar dari WC. Mereka sekarang berhadap-hadapan dengan Mita dan Nanda.
“Nda, bel sudah bunyi, tuh! Kita balik ke kelas aja , yuk!” bujuk Mita.
Nanda tak bergeming, wajahnya terlihat kaku. Baru kali ini, Mita melihat wajah Nanda segarang itu.
“Tunggu, Mit! Bukannya aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Kalian merokok, kan?” wajah Nanda menunjukkan kemenangan,”Emangnya kalian itu siapa? Pemilik sekolah ini?”
“Kalian kaya, oklah. Cantik? Kata siapa? Tapi satu hal, Aku tidak takut dengan kalian-kalian pada1 Ayo, Mit! Kita ke kelas.”
“Hey, anak baru! Kurang ajar kamu yaa!”
Sayup-sayup terdengar keduanya bersumpah serapah. Nanda tak menyadari Mita disebelahnya pucat pasi, kalau tidak ditahan,mungkin ia sudah pipis ditempat Sebelum masuk ke kelas Nanda mampir sebentar ke kantor. Ia melapor Bea dan Erin merokok di wc sama Pak Waluyo wali kelas mereka. Benar saja istirahat kedua gadis itu tidak ada di dalam kelas. Keduanya harus membersihkan WC . Nanda tersenyum simpul. Rasain sok kuasa, emang enak gosok-gosok lantai WC, sudah kotor bau lagi!
“Nda, kamu sadar apa yang telah kamu lakuin?” Tanya Mita yang sedari tadi gelisah.
“Sadar-sesadarnya.”
“Kamu tidak takut?”
“Siapa takut?” kilah Nanda. Kali ini Mita yang geleng-geleng kepala.
Pulang sekolah Mita dan Nanda dihadang Erin cs di depan pintu gerbang sekolah. Mita merasa darah rendahnya kumat. Matanya mulai berkunang-kunang. Kaki dan tangannya terasa dingin.
“Eits! Jangan pulang dulu, kami punya hadiah untuk kalian.”
Mita dan Nanda ingin berkelit. Tapi dua lawan empat bukanlah lawan yang seimbang. Apalagi Mita seakan menyerah pasrah. Mereka diapit dan digiring ke jalan setapak di belakang sekolah yang terkenal sepi. Mata keduanya di tutup. Apa yang Mita bayangkan terjadi juga. Mereka berdua dihina, dicaci maki ditambah pukulan dan tendangan mendarat di tubuh mereka.
“Kalian akan menanggung perbuatan kalian nanti! Aku bersumpah!” jerit Nanda dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Tawa keras terdengar.
“Dalam mimpimu, sayang!” Erin menyeringai. Sedang Brilly, dan Mody terbahak-bahak.
Mita merasaankan pandangannya gelap..

Ooo
“Ini tidak bisa dibiarkan. Ini sudah criminal.” Ujar Nanda.
“Lupakanlah,Nda! Kamu tak inginkan yang lalu terulang?”
“Tak akan terulang lagi! Tak akan terulang lagi! Pada kamu dan siapa saja yang ada di sekolah ini.
“Nanda!” teriak Mita dengan urat leher tertarik.” Kau tahu apa yang dilakukan Erin cs saat Shaina merebut pacar Brilly. Sewaktu olahraga rok Shaina disembunyikan, diganti dengan rok sekolah ketat dan mini hingga ia harus kena skorsing dan orang tuanya dipanggil ke sekolah, sedihnya lagi ia diputusin sama Aldo pacarnya karena Aldo kecewa Shaina yang alim dan penurut bisa-bisanya pake rok begitu mini. Aku tak ingin hal itu terjadi pada kita. Bahkan lebih buruk dari itu. Aku ngga bisa ngebayangin.” Mata Mita berkaca-kaca.
“Tapi Shaina hanya diam saja! Aku tidak. Kita harus bertindak!”
Ooo
Tekad Nanda sudah bulat, ia akan melaporkan perbuatan Erin cs ke Kepala sekolah. Besok ya besok pagi. Aku tidak takut. Nanda meremas si Moo boneka sapi ditangannya gemas, namun pemandangan di depannya membuat matanya yang bulat indah terbelalak.
“Kekerasan terhadap antar murid sekolah terjadi lagi.Dua orang siswi SMU 34 dianiaya sekelompok siswi di SMU yang sama….”
Nanda menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Kedua tangannya mengepal.Mereka itukan Erin cs, dan dua siswi yang dianaya begitu jelas menampakkan wajah meringis Nanda walaupun masih menyisakan kesangaran sedangkan Mita tak berkutik seperti tanaman tak pernah disiram. Kelompok siswi yang melakukan penganiayaan akan dipanggil kepolisian “ suara penyiar berita TV itu terdengar lantang.
Tak sadar Nanda berucap,”OH MY GOD!”
Keesokan harinya teman-temannya ramai memberi selamat dan dukungan pada Nanda.
“Gara-gara rekaman kamu, Erin cs sekarang di kantor polisi.” Kata Tiar
“Sempat-sempatnya lo merekam ulah mereka. Suer aktingmu keren abis, cocok banget jadi pemeran anak yang dizalimi.” Goda erik teman sekelasnya.
“Berasil! Berhasil! Perjuanganmu berhasil juga membuat mereka jera! Nanda kamu hebat! Kamu bilang kamu akan melaporkan mereka ke kepala sekolah, eh malah ke kantor polisi pake ada rekamannya segala, aduuuuh tampangku persis tikus curut jatuh ke comberan…he…he..”gelak Mita.
“Ta…tapi bukan aku merekamnya.” Tandas Nanda.
“Kalau bukan kamu siapa?”
Mita balik bertanya.
“Aku yang merekamnya liwat HP.” Ujar sebuah suara dibelakang mereka.
“Aku pernah dipermalukan mereka.Aku tak berbuat apa-apa. Hingga aku diskor dan Aldo memutuskan aku .Saat kulihat mereka menggiring kalian kejalan sepi itu, tanpa sepengetahuan mereka aku mengikuti dari belakang. Aku rekam semuanya., kulaporkan pada polisi” .
Nanda dan Mita menoleh keasal suara bersamaan
“Shaina!”.
“Kekerasan harus dihentikan bukan”ucap Shaina sungguh-sungguh’
“Setujuuuuuuu!”seru anak-anak kompak’
TAMAT
Banjarmasin Februari 2009
Stop Bullying Fals!

Cerpen ini telah dimuat di tabloid Gaul edisi 11 Tahun VIII 23-29 Maret 2009

// <![CDATA[
src=”http://kumpulblogger.com/sca.php?b=98998&#8243; type=”text/javascript”>
// ]]>

<img src=”http://www.kutukutubuku.com/kumpulblogger/kumpulbloggerad.jpg”>
Masukkan Code ini K1-E25E74-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

10 Komentar

Filed under Cerpen, Uncategorized