Monthly Archives: Januari 2010

Cerpen : School of Horror by Misfah Khairina

Siapa yang mencoret-coret meja laboratarium?!” suara Bu Erna menggelegar ke sekeliling kelas. Semua terdiam, hanya bola mata yang saling lirik. Tatapan tajam Erin menusuk, tertuju pada dua gadis yang duduk di sebelah kanannya. Nanda dan Mita. Terutama Mita!
“Bu Erna, saya tahu siapa yang melakukannya.” Nanda berucap.
Spontan Mita menyuruhnya diam dengan tatapannya.
“Bukankah kita…”bisik Nanda protes.
“A..anu Bu, sa…saya yang melakukannya.” Tukas Mita, membuat seisi kelas lega, terutama empat pasang mata Geng “Funky Girls”, Erin , Brilly, Gea dan Mody.
“Mita! Apa-apaan ini! Itu tidak benar, Bu! Mita…” Nanda heran dengan kelakuan teman sebangkunya itu.
“Benar,Bu. Saya yang melakukannya.” Tandas Mita lagi.
“Kalau begitu Mita, Ikuti Ibu ke kantor.” Mita menelan ludah.
“Sudahlah , Nda! It’s OK, ngga apa-apa, kok!” bisik Mita menenangkan perasaan campur aduk Nanda, sahabat barunya. Nanda memang murid pindahan dari Surabaya. Pertama kali bertemu, Mita sudah merasa klop bersahabat dengan Nanda. Tapi kadang-kadang Mita takut dengan sikap Nanda yang agak “berani” terutama yang menyangkut dengan kelakuan ke empat cewek-cewek “Funky Girls”.
Istirahat pertama Nanda langsung menghampiri Mita yang baru saja keluar dari kantor.
“Kamu baik-baik saja, kan?”
Mita tersenyum,”Aku sehat wal afiat tak kurang suatu apa. Cuma dinasehati.”
“Tapi kamu tidak melakukan perbuatan itu. Bukankah Erin cs yang melakukannya? Ini sama sekali tidak adil!”
“Sudahlah,Nda! Aku lebih memilih dibawa ke kantor dibandingkan berhadapan dengan “Funky Girls”.sahut Mita enteng . Nanda geleng-geleng kepala, “Mita….Mita….”
Ooo
“Hoooiii…lama banget, sih! Aku sudah kebelet, nih!” gedor Nanda di depan pintu WC satu-satunya yang lumayan bersih dan bisa digunakan.
“Iya, nih! Siapa sih yang make?” gerutu Mita.
Dari dalam WC terdengar gelak tawa dan asap. Asap rokok! Siapa yang merokok? Nanda mengetuk pintu WC kembali. Pintu terbuka. Erin dan Bea menyembunyikan sesuatu. Alis keduanya terangkat,”Ngapain ketak-ketok?Emang kami tuli? Tunggu sebentar napa, seeeh?” kata Erin.
“Kalau mau pipis, kan ada WC kosong di sebelah.” Timpal Bea dari mulutnya tercium bau asap rokok.
“Kalian tidak tahu kalau WC di sebelah pintunya rusak.” Balas Nanda.
“Diakalin kek! Alasan saja!” Bea dan Erin melangkah keluar dari WC. Mereka sekarang berhadap-hadapan dengan Mita dan Nanda.
“Nda, bel sudah bunyi, tuh! Kita balik ke kelas aja , yuk!” bujuk Mita.
Nanda tak bergeming, wajahnya terlihat kaku. Baru kali ini, Mita melihat wajah Nanda segarang itu.
“Tunggu, Mit! Bukannya aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana! Kalian merokok, kan?” wajah Nanda menunjukkan kemenangan,”Emangnya kalian itu siapa? Pemilik sekolah ini?”
“Kalian kaya, oklah. Cantik? Kata siapa? Tapi satu hal, Aku tidak takut dengan kalian-kalian pada1 Ayo, Mit! Kita ke kelas.”
“Hey, anak baru! Kurang ajar kamu yaa!”
Sayup-sayup terdengar keduanya bersumpah serapah. Nanda tak menyadari Mita disebelahnya pucat pasi, kalau tidak ditahan,mungkin ia sudah pipis ditempat Sebelum masuk ke kelas Nanda mampir sebentar ke kantor. Ia melapor Bea dan Erin merokok di wc sama Pak Waluyo wali kelas mereka. Benar saja istirahat kedua gadis itu tidak ada di dalam kelas. Keduanya harus membersihkan WC . Nanda tersenyum simpul. Rasain sok kuasa, emang enak gosok-gosok lantai WC, sudah kotor bau lagi!
“Nda, kamu sadar apa yang telah kamu lakuin?” Tanya Mita yang sedari tadi gelisah.
“Sadar-sesadarnya.”
“Kamu tidak takut?”
“Siapa takut?” kilah Nanda. Kali ini Mita yang geleng-geleng kepala.
Pulang sekolah Mita dan Nanda dihadang Erin cs di depan pintu gerbang sekolah. Mita merasa darah rendahnya kumat. Matanya mulai berkunang-kunang. Kaki dan tangannya terasa dingin.
“Eits! Jangan pulang dulu, kami punya hadiah untuk kalian.”
Mita dan Nanda ingin berkelit. Tapi dua lawan empat bukanlah lawan yang seimbang. Apalagi Mita seakan menyerah pasrah. Mereka diapit dan digiring ke jalan setapak di belakang sekolah yang terkenal sepi. Mata keduanya di tutup. Apa yang Mita bayangkan terjadi juga. Mereka berdua dihina, dicaci maki ditambah pukulan dan tendangan mendarat di tubuh mereka.
“Kalian akan menanggung perbuatan kalian nanti! Aku bersumpah!” jerit Nanda dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Tawa keras terdengar.
“Dalam mimpimu, sayang!” Erin menyeringai. Sedang Brilly, dan Mody terbahak-bahak.
Mita merasaankan pandangannya gelap..

Ooo
“Ini tidak bisa dibiarkan. Ini sudah criminal.” Ujar Nanda.
“Lupakanlah,Nda! Kamu tak inginkan yang lalu terulang?”
“Tak akan terulang lagi! Tak akan terulang lagi! Pada kamu dan siapa saja yang ada di sekolah ini.
“Nanda!” teriak Mita dengan urat leher tertarik.” Kau tahu apa yang dilakukan Erin cs saat Shaina merebut pacar Brilly. Sewaktu olahraga rok Shaina disembunyikan, diganti dengan rok sekolah ketat dan mini hingga ia harus kena skorsing dan orang tuanya dipanggil ke sekolah, sedihnya lagi ia diputusin sama Aldo pacarnya karena Aldo kecewa Shaina yang alim dan penurut bisa-bisanya pake rok begitu mini. Aku tak ingin hal itu terjadi pada kita. Bahkan lebih buruk dari itu. Aku ngga bisa ngebayangin.” Mata Mita berkaca-kaca.
“Tapi Shaina hanya diam saja! Aku tidak. Kita harus bertindak!”
Ooo
Tekad Nanda sudah bulat, ia akan melaporkan perbuatan Erin cs ke Kepala sekolah. Besok ya besok pagi. Aku tidak takut. Nanda meremas si Moo boneka sapi ditangannya gemas, namun pemandangan di depannya membuat matanya yang bulat indah terbelalak.
“Kekerasan terhadap antar murid sekolah terjadi lagi.Dua orang siswi SMU 34 dianiaya sekelompok siswi di SMU yang sama….”
Nanda menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Kedua tangannya mengepal.Mereka itukan Erin cs, dan dua siswi yang dianaya begitu jelas menampakkan wajah meringis Nanda walaupun masih menyisakan kesangaran sedangkan Mita tak berkutik seperti tanaman tak pernah disiram. Kelompok siswi yang melakukan penganiayaan akan dipanggil kepolisian “ suara penyiar berita TV itu terdengar lantang.
Tak sadar Nanda berucap,”OH MY GOD!”
Keesokan harinya teman-temannya ramai memberi selamat dan dukungan pada Nanda.
“Gara-gara rekaman kamu, Erin cs sekarang di kantor polisi.” Kata Tiar
“Sempat-sempatnya lo merekam ulah mereka. Suer aktingmu keren abis, cocok banget jadi pemeran anak yang dizalimi.” Goda erik teman sekelasnya.
“Berasil! Berhasil! Perjuanganmu berhasil juga membuat mereka jera! Nanda kamu hebat! Kamu bilang kamu akan melaporkan mereka ke kepala sekolah, eh malah ke kantor polisi pake ada rekamannya segala, aduuuuh tampangku persis tikus curut jatuh ke comberan…he…he..”gelak Mita.
“Ta…tapi bukan aku merekamnya.” Tandas Nanda.
“Kalau bukan kamu siapa?”
Mita balik bertanya.
“Aku yang merekamnya liwat HP.” Ujar sebuah suara dibelakang mereka.
“Aku pernah dipermalukan mereka.Aku tak berbuat apa-apa. Hingga aku diskor dan Aldo memutuskan aku .Saat kulihat mereka menggiring kalian kejalan sepi itu, tanpa sepengetahuan mereka aku mengikuti dari belakang. Aku rekam semuanya., kulaporkan pada polisi” .
Nanda dan Mita menoleh keasal suara bersamaan
“Shaina!”.
“Kekerasan harus dihentikan bukan”ucap Shaina sungguh-sungguh’
“Setujuuuuuuu!”seru anak-anak kompak’
TAMAT
Banjarmasin Februari 2009
Stop Bullying Fals!

Cerpen ini telah dimuat di tabloid Gaul edisi 11 Tahun VIII 23-29 Maret 2009

// <![CDATA[
src=”http://kumpulblogger.com/sca.php?b=98998&#8243; type=”text/javascript”>
// ]]>

<img src=”http://www.kutukutubuku.com/kumpulblogger/kumpulbloggerad.jpg”>
Masukkan Code ini K1-E25E74-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Iklan

10 Komentar

Filed under Cerpen, Uncategorized

Perlukah karya yang kita tulis di publikasikan liwat internet?

Suatu waktu aku sengaja membuka pertanyaan diatas? Sesama penulispun menyarankan aku untuk tidak mempublikasikan karyaku liwat internet, rawan diplagiat katanya. Tapi aku tak surut untuk melakukannya, karena  aku pikir siapalah aku mana ada penerbit yang akan menerbitkan karyaku menjadi sebuah buku. Kalaupun ada, siapa yang mau beli? Memang terdengar terlalu merendah, tapi aku sadar diri. Bagiku sekarang ini berkarya sebanyak-banyaknya, kalau Alhamdulilah ada yang mau baca, kalau terinspirasi sok, mencontek alias memplagiat aku masih percaya bahwa semua penulis adalah orang jujur,kecuali penulis jadi-jadian, lagipula  semua karya yang kumuat diinternet telah dimuat di beberapa majalah dan tabloid remaja. Mudah-mudahan, someday, impianku tentang buku kumpulan cerpenku akan menjadi kenyataan.

4 Komentar

Filed under Uncategorized

cerpen matador dan Vampir

Aku pernah membaca dua cerpen yang aku suka banget Judulnya Musim Panas di Plaza des Toros karya Farin dan Pangeran Kegelapan karya Sinta Yudisia. Mengapa aku suka banget kedua cerpen tersebut, keduanya menceritakan tentang Matador dan Vampir.Kedua pengarang ini menulis begitu mendetail da sangat memikat. Aku terpesona dan hanyut dalam kibasan kain merah sang matador yang menari dengan maut, kombinasi keindahan dan kejantanan. Sedang Pangeran kegelapan, panorama kastil tua dengan tuannya yang selalu murung, tampan dan penuh misteri. Dua buah karya yang mengesankan dan tak pernah lekang oleh waktu. Entah untuk kesekian kali aku membacanya, tak pernah bosan rasanya.Farin dan Sinta sangat pintar membuat imajinasiku menari-nari. Someday, I’d like to write about them, too. Matador dan Vampir,hmm…menarik bukan?

1 Komentar

Filed under Uncategorized

Cerpen :Bandara Cinta Noella by Misfah Khairina

kumpulblogger/index.html” target=”_new”>
Masukkan Code ini K1-E25E74-A
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

14 Februari, Noella duduk di Cafe La Moda di Bandara. Pesawat landing dan take off silih berganti. Lampu-lampu di runway dari kejauhan menambah indah pemandangan dari balik dinding kaca tebal café itu. Cahaya bulan yang tak lama lagi bulat sempurna menambah syahdu suasana.
Meja bertaplak putih nampak sederhana tapi ellegan. Strawberry Juice untuk Noella dan Fruit Punch untuk Aldo. Cheese cake favorite Noella dan Choccolate Waffle kesukaan Aldo. Buket cantik penuh bunga mawar kesayangan Noella.
“Kenapa kau kemari Noella?”
“I miss you,”
“I miss you, too.”
“Kau ingat hari ini hari apa?”
“Hari kita jadian.”
“Kau ingat tahun lalu kita merayakan nya disini.”
“Hari terindah yang pernah kurasakan. Karena aku merayakannya denganmu, Sayang.”
Pipi Noella terasa hangat begitu pula matanya. Seakan ada yang meggantung disudut-sudut matanya. Ia tak yakin dapat menahannya.
“Sekaligus, Valentine tersedih dalam hidupku.”
Bendungan itu bobol. Air mata Noella mengucur deras.
“Noella, please hapus air matamu. Seharusnya kamu senang hari ini.”
“Seharusnya. Tapi aku takut.”
“Apa yang kau takutkan? “
“Tahun lalu aku menangis karena takut kehilanganmu. Sekarang aku takut…”
Aldo menatap Noella sungguh-sungguh menunggu ucapan gadis itu berikutnya,
“Aku… takut menyakitimu.”
Noella menggeleng, “Aldo maukah kau memaafkan aku?” pintanya dengan suara bergetar. Aldo tersenyum. “Yang harusnya terjadi pasti akan terjadi Noella tidak ada yang harus dimaafkan. Aku ingin kamu bahagia dan tersenyum lagi. Hey, mana senyum menawan itu pergi.”
“Entahlah, Do semenjak kau pergi , bibir ini seolah enggan tersenyum.”
u“Noella sayang, kau mulai menangis lagi. Tapi anggap saja ini tangisan terakhirmu untukku. Setelah itu kamu bisa tersenyum dan tertawa lagi. Seperti dulu. Apa yang membebani dirimu?”
“Aku jatuh cinta, Do.”
Aldo tertawa.
“Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu? Aku jatuh cinta lagi. Dengan cowok lain. Kulihat dia pertama kali dari terminal kedatangan. Ia seolah – olah dijatuhkan begitu saja dihadapanku, aku ingat hari itu hari ulang tahunku. Aku heran mengapa bukan kamu yang datang, tapi cowok yang satu ini.”
Percakapan itu tiba-tiba disela pengumuman pesawat Malasyia Air yang baru saja mendarat. Aldo menggenggam jemari Noella erat, sebuah ciuman lembut mendarat dipipinya yang mulus. Noella memejamkan matanya meresapi perasaannya yang membuncah, perasaan campur aduk, sedih bahagia menjadi satu.
“Pergilah, temui dia.” Bisik Aldo. Senyum lebarnya menenangkan, Noella memeluk erat cowok itu seakan-akan ia tak akan bertemu dengannya lagi. Tergesa Noella berlari kecil keluar dari La Moda, nyaris ia menubruk seorang waiter.
“Ma…Maaf , Mbak.” Ucapnya cepat. Waiter itu mengernyitkan dahinya, namun beberapa saat kemudian Waiter itu seperti mengenalinya sembari bergumam, “Kasihan.” Seorang rekan waiter lainnya menanyakan maksud gumamannya, Waiter itu berucap,”Itu kan gadis aneh yang suka duduk dimeja no 7, percaya ngga sih, aku sering memergokinya bicara sendiri!”
ooo
Abey turun dari escalator ke terminal kedatangan, Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia juga heran, bisa-bisanya ia mengenakan kemeja rapi walaupun masih berjins ria. Sekotak coklat dan boneka beruang berwarna pink tak lupa dibawanya. Abey membetulkan letak kaca matanya. Ia tak sadar ia mengulangi gerakan itu untuk kesepuluh kalinya.
Abey tak perduli, pokoknya hari ini ia harus balik ke Indonesia, . Mungkin ini yang dinamakan terserang virus cinta, membuat hatinya berubah warna menjadi pink. Seraut wajah manis terbayang-bayang dibenaknya. Wajah Noella. Gadis itu ditemukannya sedang duduk sendiri di La Moda. Di Café Bandara, menunggu seseorang, namun orang yang dinantinya tak datang, ia memberanikan diri berkenalan dengannya. Pertama-tama gadis itu seolah membatasi diri, lama-lama mereka bisa bercakap-cakap lebih panjang, dilanjutkan dengan telpon-telponan dan kunjungan Abey ke rumahnya. Hanya sebatas itu karena Abey harus balik ke Malaysia melajutkan studinya. Anehnya, saat mereka berjauhan Abey diserang rasa rindu pada Noella. Pada senyumnya, cara bicaranya, kemanjaannya. Abey bisa menghabiskan waktu berjam-jam menilponnya dari Malaysia.
Sampai suatu ketika Abey keceplosan,”Kamu udah punya pacar belum?” Tanya Abey iseng setengah bercanda.
Noella lama terdiam. Beberapa saat kemudian terdengar isak tangisnya yang makin lama makin kencang. Abey terkejut setengah mati dengan tanggapan Noella yang dianggapnya berlebihan.
“Ma…maaf…kalau omongan aku membuatmu sedih.” Ralat Abey.
“A…aku ngga bisa ngomong sekarang, maafkan aku…”erang Noella ditengah isaknya.
Hati Abey bertanya-tanya mengapa Noella jadi begitu bersedih dengan pertanyaan isengnya itu. Abey sendiri tidak yakin, apakah ia sanggup menghadapiii kenyataan kalo Noella sudah memiliki kekasih. Siapa yang tahu kalau tidak dicoba, toh seandainya kenyataan buruk yang harus ia hadapi, ia bisa langsung balik ke Malaysia dan menenggelamkan dirinya untuk studinya. Hari ini , ia akan menumpahkan segenap rasa yang ada dihatinya untuk Noella.
Noella!” seru Abey pada seorang gadis berkardigan baby pink ditengah kerumunan orang di terminal kedatangan.
“Abey!”
“Buatmu.”
Abey menyerahkan kotak coklat dan boneka beruang ditangannya pada Noella.
“Abey!…te..t erima kasih.”
Noella tersentak, Abey meraih kedua jemarinya dan berucap,”Noella, sejak mengenalmu, rasanya tak ada hari tanpa memikirkanmu. Walau baru beberapa kali kita bertemu, tapi rasanya aku mengenalmu sudah bertahun-tahun. Akankah ada ruang dihatimu untukku? would you be my lover? ”pintanya seraya menatap langsung ke sepasang manik mata Noella.
Tubuh Noella berguncang hebat, tak sanggup rasanya ia berdiri di atas kedua kakinya. Tak sanggup rasanya ia menatap wajah cowok itu. Begitu jauh jarak yang ditempuhnya hanya untuk menyatakan cinta
“Noella, tataplah mataku tidakkah kau lihat kesungguhan disana?”
Noella mengangkat kepalanya perlahan. Perasaan haru biru datang lagi menderanya. Mengapa Aldo yang selalu dekat dengannya terasa begitu jauh? Mengapa cowok ini Abey, terasa begitu dekat, begitu nyata, bahkan dapat ia sentuh. Apakah itu artinya Aldo telah mengikhlaskannya? Ataukah ia telah membiarkan hatinya disentuh hangatnya asmara kembali setelah Aldo pergi?
“Jangan ingkari hatimu Noella,” jerit batin Noella ,”Aldo telah pergi dan ia tak kan kembali. Ia pergi setahun yang lalu ke Makasar, dimana kedua orang tuanya tinggal. Aldo tidak pernah sampai ataupun kembali menjumpaimu. Karena pesawat yang ditumpangii nya jatuh diatas Samudra tepat di hari jadian mereka, bahkan jasadnyapun tak pernah kau lihat lagi.”
“Abey,” Noella menenggelamkan kepalanya ke dada Abey dengan suara parau ia berucap, “I will, “ Air mata mengalir deras di kedua belah matanya. Abey mengusap lembut rambut Noella terbata-bata ia berkata,”I love…you. I love you…”
Waktu seolah terhenti. Udara dipenuhi gelombang-gelombang amor berwarna pink, hanya Noella dan Abey dapat meghirupnya.
Waiter-waiter La Moda Café merubung kaca besar dekat terminal kedatangan. Suara-suara mereka bersahut-sahutan.
“Ooo…itu tho cowok yang di tunggu gadis aneh itu..”
“Ganteng banget, Chace Crawford versi Indonesia. Pantes saja gadis itu sampai tergila-gila.”
“Tapi ngga sampai duduk berjam-jam disini trus ngomong sendiri kali…”
“Gimana dooong, orang rindu beraaat….he….he”
Ooo
Noella dan Abey berjalan bergandengan keluar menuju lapangan parkir. Langkah Noella terasa ringan. Sesaat mueliwati La MOda Café, sekelebatan Noella melihat bayangan Aldo melambai dan tersenyum padanya. Dibandara ini cinta Noella pergi, di Bandara ini pula cinta hadir kembali . Bandara cinta.
Tamat

2 Komentar

Filed under Cerpen